MENULIS ITU MUDAH



ARSWENDO ATMOWILOTO, suatu saat pernah bilang: “Mengarang itu gampang!” Mengarang memang sangat gampang—apalagi mengarang bebas. Tapi kenapa banyak orang yang berminat mengarang atau yang ingin menjadi penulis tiba-tiba terhenti idenya? Sebenarnya masalah ini terletak pada trik menulis saja.

Di bawah ini saya akan coba jelaskan perlahan strategi menulis, khususnya artikel.

Sebelum menggarap lebih jauh, baiknya kita ketahui dulu ciri-ciri artikel. Abu Al-Ghifari (2002) dalam bukunya ‘Kiat Menjadi Penulis Sukses’ menjelaskan ciri artikel sebagai berikut:

1. Lugas dan logis, langsung ke titik persoalan dan masuk akal
2. Jelas dan padat, keteranganya tidak bertele-tele
3. Terbuka dan tidak egois, menerima kemungkinan pendapat lain
4. Obyektif, keterangan yang disajikan sesuai data dan fakta
5. Menggunakan bahasa baku (EYD)

Setelah mengetahui ciri ini, segeralah lakukan beberapa langkah di bawah ini. Jangan sampai ide yang lama terpendam dalam kepala hilang sia-sia.


Buat Kerangka Karangan

Dalam membuat kerangka, cukup garis besarnya saja. Tak usah sampai sedetail mungkin. Gunanya agar tulisan yang akan dibahas tidak keluar jalur. Biasanya kerangka terdiri dari pikiran utama dan pikiran penjelas. Bagi penulis professional, kadang kerangka ini tidak diperlukan, karena biasanya kerangkanya telah ter-format dalam kepala. Ketika menulis, idenya akan semakin mengalir. Biasanya tulisan penulis handal, terkesan ‘membatin’ dan kontemplatif.

Mari kita buat kerangka. Sebagai contoh, tema yang akan kita angkat ‘Manusia mencoba hidup di Mars.’ Kerangkanya biasa dibuat dengan beberapa pointer pertanyaan.

Pertama, sejarah pendaratan manusia di Mars atau keluar angkasa
Kedua, berapa lama kira-kira manusia mampu bertahan hidup di Mars?
Ketiga, mungkinkah di masa depan nanti manusia bisa hidup di Mars?

Tentunya agar tulisan kita ‘hidup,’ maka perlu diwarnai dengan data akurat, tajam dan tentunya terpercaya. Gunanya untuk menunjang kualitas isi tulisan. Teramat beda tulisan para pakar dengan data jika dibandingkan dengan tulisan opini pribadi tanpa disisipi data.

Buat Judul

Judul adalah lukisan singkat suatu artikel. Biasanya juga disebut miniatur isi bacaan. Judul yang baik, idealnya tidak lebih dari lima kata. Yang penting menggambarkan isi tulisan. Kadang juga ada penulis yang judulnya panjang. Tapi itu semua tergantung pada kecermatan sang penulis dalam pemilihan judul. Agar judul tulisan menarik, sebaiknya sering-seringlah membaca tulisan di media massa atau buku. Dari situ, biasanya ide judul akan tercipta.

Judul yang menarik juga sebaiknya memancing pembaca untuk membacanya hingga akhir.Judul yang menarik biasanya akan ‘mencuri hati’ para pembaca. Sebagai contoh ‘Teologi Pluralis.’ Orang akan penasaran apa maksud tulisan ini. Kenapa banyak teologi di dunia ini? Bagaimana caranya agar masing-masing kelompok agama bisa akur dalam realitas sosial? Tulisan ini akan menarik para penikmat kajian fenomena keagamaan dewasa ini.

Buat Lead (Kalimat Pembuka)

Lead biasanya diletakkan di paragraf pertama atau kedua. Selain itu, sebaiknya ‘tarikan’ awal tulisan menarik dan menggugah keinginan pembaca untuk mengetahui. Buatlah pembaca untuk penasaran dan ‘menyesal’ jika tidak membaca sampai tuntas.

Ada banyak tipe lead yang bisa kita contoh substansinya.

§ Ringkasan. Contohnya:

“Albert Camus (1913-1960), penulis terkenal dari Algeria, dalam novelnya yang berjudul The Myth of Cycles menceritakan problem tragis manusia modern yang hanya berkonsentrasi pada kehidupan materiil atau jasmaniah. Camus menyebut kondisi ini sebagai tragedi bunuh diri manusia.”

§ Anekdot/ dongeng/sejarah. Contohnya:

“Bersamaan ketika ia lahir, gunung pun meletus. Konon, menurut cerita orang tua, meletusnya gunung itu menandakan akan munculnya Satrio Piningit alias sang pahlawan yang dinantikan. Dialah Bung Karno, yang dikemudian hari menjadi obor revolusi kemerdekaan Indonesia.”

§ Kutipan orang lain/kitab suci/petuah. Contohnya:

“Ilmu adalah buruan dan menulis adalah pengikatnya,” demikian kata Imam Syafi’i suatu saat. Baginya, ilmu adalah sesuatu yang paling dicari manusia. Ketika telah diraih, maka haruslah ilmu itu ditulis, agar tidak hilang. “Adalah suatu kebodohan, ketika engkau mendapatkan buruan, dan engkau melepasnya kembali,” lanjut salah satu Imam Mazhab Empat itu.

§ Amanat langsung. Contohnya:

”Anda ingin lulus di kampus ternama di Indonesia? Di bawah ini beberapa tips yang bisa menjadi pertimbangan anda dalam memilih jurusan dan strategi menembus SPMB.”

Buat Alinea/Paragraf

Alinea adalah kesatuan kalimat yang mengungkap berbagai informasi dengan ide pokok sebagai pengendalinya. Alinea yang baik setidaknya mengandung tiga syarat: kesatuan, kelengkapan dan urutan pikiran. Kesatuan bermakna tulisannya tidak ‘lari’ dari pembahasan. Terfokus. Kelengkapan artinya ada data-data dan analisa yang melengkapi statement di tiap paragraf. Sedangkan urutan pikiran maksudnya, bisa saja menggunakan umum-khusus atau khusus-umum yang logis dan sistematis.

Isi Artikel

Ini sebuah artikel sebaiknya merujuk pada kerangka karangan. Juga harus dihindari kalimat yang berlebihan seperti: agar supaya (cukup ‘agar’ atau ‘supaya’ saja), jikalau (cukup ‘jika’ atau ‘kalau’), begitu juga kalau seandainya (cukup ‘kalau’ atau ‘seandainya’).

Isi artikel yang baik adalah yang memuaskan dahaga pembaca. Dalam hal apa saja. Sebaiknya, tulisan yang kita buat berdampak pada ‘pencerahan’ otak dan hati atau kepuasan informasi para pembaca. Jangan sampai, tulisan kita malah membuat orang yang sudah bingung, tambah bingung pula!

Bagaimana cara pengutipan dalam tulisan? Jika tema yang dibahas tentang ‘Spiritualitas Manusia Modern’ dengan menggunakan buku-nya Naisbitt dan Aburdene, maka penulisannya bisa seperti ini:

“Dalam bukunya Megatrends 2000, John Naisbitt dan Aburdene meramalkan bahwa millennium ketiga adalah masa kebangkitan spiritual manusia modern..”

Begitu juga dalam bidang kegiatan. Jika kita mengikuti kegiatan dan ingin dimasukkan dalam tulisan. Contoh:

“Achmad Ali, guru besar hukum Unhas, dalam ceramahnya di UGM mengatakan bahwa siapapun presiden yang terpilih nanti, ia harus taubat nashuha.”

Menutup Tulisan

Agar tulisan kita menarik, sebaiknya tutuplah isi tulisan dengan kata-kata bijak, pertanyaan, atau kisah dengan sedikit penekanan. Contohnya:

“Agar tidak terjadi lagi kerusuhan sosial yang destruktif, maka tak ada salahnya kita ikuti kata Da’i kondang Aa Gym: mulai dari yang terkecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang!”

* * *

Anda ingin jadi penulis hebat, kan?

Pada hakikatnya sih tidak ada penulis dimanapun yang ‘langsung jadi.’ Sejatinya, semua perkerjaan dibutuhkan sebuah proses. Yang harus anda lakukan sekarang adalah menjaga dan meningkatkan terus vitalitas, keuletan. Jangan pernah berhenti mencoba! Dengan percobaan yang tak henti, secara perlahan tapi pasti inovasi akan anda dapatkan.

Begitu juga di dunia kepenulisan. Semua manusia punya momentum untuk memulai dan meraih kesuksesan. Lantas, kapan momentum itu akan datang? Menulislah! Momentum akan datang seiring dengan usaha yang anda lakukan…

Selamat, semoga anda jadi penulis!

0 Comments:

Post a Comment