Aku tak tahu harus memulai darimana. Yang kurasakan hanya pekat. Aku terpekur sendiri mencari hikmah di balik semua kisahku. Kuingin lapangkan hatiku. Tuhan, aku yakin semua terjadi atas kehendakMu. Tetapi, mengapa begitu sulit bagiku tuk ikhlas dan ridho atas semuanya? Cinta ini menyiksaku. Cinta ini mendesakku. Ampunkan aku...
Sunyi...sepi...sendiri...hanya bisu di hatiku kini. Air mataku selalu mengalir tak berdaya tuk hentikan. Entah apa yang kutangisi. Apakah karena nasib cintaku? Atau karena ketidakberdayaanku melawan rasa yang menderu. Sakit, perih, ngilu. Hanya itu. Maafkan aku yang selalu mengeluh padaMu ya Robb.
Dengan tinta ini kucoba goreskan kisahku.
Aku seorang perempuan biasa lulusan strata 1 di salah satu PTS di Palembang. Aku dulu aktiv di BEM, sebuah organisasi mahasiswa di universitasku. Bahkan aku pernah menjabat sebagai ketua umumnya. Aku begitu menikmati masa-masaku sebagai mahasiswa. Setiap nafasku mengiringi gerakku dalam aktivitas dakwah dan politik. Begitu ringan, begitu panjang. Walau banyak aral, air mata, dan keringat namun aku kuat menghadapinya. Semuanya karena penguatan yang diberikan oleh teman-temanku baik dari kampusku juga dari universitas lainnya. Aku rindu memorial itu. Aku rindu gerakku dulu. Aku rindu sahabat-sahabatku yang sekarang telah pergi.
Ah, kenangan hanya tinggal kenangan. Tak kan mungkin bisa kuputar waktu. Jika bisa, tentu sudah kuputar ke 13 tahun silam, kembali ke masa SMP ku yang tak bisa kunikmati seperti remaja lainnya. Andai saja...oh andai saja....
Plaju, 19 Juli 1996
Hari ini, adalah hari pertamaku masuk SMP. Aku senang sekali. Bajuku telah berganti warna dari merah putih menjadi biru putih. Terima kasih ya Alloh aku puas dengan segalanya. Nilai hasil Ebtanasku juga tak mengecewakan. Aku mendapat NEM 37,65. Tidak apa-apa lah aku hanya menjadi nomor 2 terbesar di SD ku. Karena aku pindah sekolah saat kelas 6 caturwulan ke-2 dari Lampung ke Palembang jadi banyak pelajaran yang berbeda. Toh, sekarang aku sudah masuk SMP.
” Kamu harus bisa mendapatkan juara umum di SMP. Jangan sampai prestasimu turun. Di SD kemarin kamu bisa dapat beasiswa prestasi dan juara umum di SD dari kelas 1 sampai kelas 6. Kalau turun jangan jauh-jauh, rangking 3 aja. Awas ya kalau merosot, papa mu pasti marah sama kamu..,” pesan mama selalu terngiang di telingaku. Tapi, ah, masa bodoh. Aku mau nyantai dulu. Aku bosan terlalu serius belajar. Di SD aku tidak bisa main puas, tidak punya banyak teman karena harus pilih-pilih. Aku tak mau seperti itu lagi. Aku mau bebas. Yeah...bebas!!!
Oktober 1996
”Hah???!!! Tidak...tidak...!!!” teriakku. Rusna, sahabat sebangkuku menoleh bingung. Aku gemetar memegang buku Raporku di Cawu pertamaku di SMP ini.
”Kenapa? Hancur ya nilainya?” tanyanya santai. Seketika, air mataku mengalir. Ada rasa takut merayapi hatiku. Papa pasti marah besar. Aku gemetar hebat.
”Rusna Meilia!” Rusna segera berjalan ke depan mengambil buku rapornya ketika namanya dipanggil ibu Erlis, wali kelas kami.
”Yeaah...!!!horee...alhamdulillah...” Rusna melonjak kegirangan. Ah, Rusna kok tega bahagia di atas penderitaanku. Aku segera mengambil buku rapornya. Kulihat nilai dan peringkatnya. Peringkat V. Sedangkan aku peringkat VIII. Aku terduduk lemas. Tak kusangka, Rusna yang sewaktu SD hanya mendapatkan rangking di 10 besar mengalahkan aku yang biasa mendapatkan rangking 1 dan 2. Aku tak percaya. Air mataku mengalir lagi
. Kali ini lebih deras.
Aku pulang dengan lemas bercampur takut. Dengan gemetar, kuserahkan buku raporku kepada papa saat malamnya. Wajahku pucat. Kembali air mataku meleleh, pecah bertetes-tetes di pipiku. Papa nampak kecewa.
”Papa, jangan pukul aku. Jangan marah padaku...,” harapku dalam hati. Papa diam saja. Dia menyerahkan buku raporku kepada mama. Lalu masuk ke kamarnya. Aku memandangi papa dengan wajah basah. Aku terisak. Mama juga diam. Aku tak tahan lagi lalu berlari masuk ke kamarku. Aku menangis tersedu-sedu. Mama, papa, aku janji aku akan belajar lebih baik lagi. Aku tak kan kecewakan kalian. Maafkan aku...
To be continued....
Labels: Sastra
